Kejujuran yang Membahagiakan Pada saat duduk di bangku SMA, saya mempunyai sahabat bernama Fajrin Sapta Azaria. kami bersahabat sejak masuk SMA. Fajrin adalah orang yang sangat menyenangkan, baik dan tidak cepat marah. Tapi diantara semua sifatnya, ada satu sifat yang kurang saya sukai, yaitu jika berbicara dengan orang dia tidak pernah memikirkan terlebih dahulu apakah perkataannya itu menyakitkan hati orang lain atau tidak. Pada suatu hari, saya berangkat ke sekolah bersama Fajrin. Di persimpangan jalan, kami bertemu dengan seorang teman sekelas kami yang bernama Riska. Kami melontarkan senyum pada Riska, Riskapun membalas dengan senyuman tipis. Tiba-tiba saja Fajrin melontarkan perkataan yang kurang menyenangkan pada Riska. Ia berkata, “Riska, bajumu lusuh sekali? Memang tidak dibelikan baju oleh ayah dan ibumu?”. Saya terkejut mendengar Fajrin berkata demikian. Saya melihat mata Riska berkaca-kaca mendengar perkataan Fajrin. Riska memang tergolong orang yang tidak mampu, sehingga ia menjadi orang yang mudah tersinggung. Riska juga sering memakai seragam yang lusuh ke sekolah. Tapi saya tak menyangka saja jika Fajrin berani berkata demikian pada Riska. Saya langsung menyenggol tangan Fajrin ketika ia berkata demikian pada Riska. Riska langsung berlari sesaat ketika mendengar Fajrin berkata seperti itu padanya. Fajrin malah berkata mengapa, ketika aku menyenggol tangannya dan ketika Riska pergi berlari. Saya langsung mengingatkan Fajrin bahwa perkataannya itu menyakitkan bagi hati Riska. Tapi Fajrin malah cuek dan tidak peduli. Fajrin bukan sekali itu saja berkata tidak menyenangkan pada orang lain. Banyak sekali cerita mengenai perkataan tidak menyenangkannya pada orang lain. Pada saya pun ia pernah mengatakan hal yang tidak menyenangkan. Saya pun sempat ingin marah padanya karena perkataannya itu. Tapi entah mengapa saya tak bisa, karena saya takut jika saya marah padanya persahabatan kami bisa terganggu. Saya sadar, maksud ia berkata demikian adalah baik, hanya saja cara ia menyampaikannya salah, sehingga saya masih bisa bersabar. Suatu hari, ketika ulangan matematika, teman-teman sekelas menyontek kertas ulangan saya. Saya pun mempersilahkan mereka untuk menyontek, karena saya berpikir saya pun sering menyontek pada mereka. Setelah ulangan selesai, Fajrin menghampiri saya dan berkata, ’’Vera, jadi orang jangan sok pinter dong ! Keenakan mereka jika kamu memberikan contekan terus menerus.’’ Ketika mendengar Fajrin berkata seperti itu, saya sangat terkejut dan ingin marah. Saya merasa batas kesabaran saya sudah habis. Saya memberanikan diri berusa jujur pada Fajrin tentang ketidak sukaan saya pada sifatnya yang ceplas-ceplos itu. Saya berkata, ’’Fajrin, bisa tidak sih kalau bicara perkataannya dijaga? Maksud kamu berkata seperti itu apa? Apa kamu tidak berpikir tentang perasaan orang lain? ’’ Fajrin amat terkejut melihat saya memarahinya. Ia pun terdiam. Saya tidak bicara dengannya sampai 3 hari. Fajrin mungkin merasa bersalah dan tidak enak lama-lama bermusuhan dengan saya. Iapun meminta maaf pada saya, saya pun memaafkannya dengan catatan ia tidak mengulanginya lagi. Mulai saat itu, Fajrin menjadi orang yang lebih baik, perkataannya pun sudah mulai diperhalus. Ternyata berkata jujur itu tidak sulit juga tidak mudah. Tapi dengan berkata jujur perasaan kita bisa menjadi lebih baik.

September 16th, 2010

kejujuranBersikap yang baik Ini adalah kisah yang dialami oleh adikku sendiri. Pada saat itu usianya masih menginjak umur 12 tahun atau lebih tepatnya saat duduk dibangku kelas 6 SD. Dia mempunyai seorang teman bernama suchi . suchi adalah seorang gadis pendiam dan tidak banyak bergaul dengan teman di kelasnya. Terkadang orang-orang berfikir bahwa dia adalah anak yang sombong karena tidak mau bergabung dengan yang lain. Pada saat tertentu saja dia mau berbicara kepada orang lain. Pernah adikku jahil, memotong-motong penghapus miliknya dan melempar potongan itu kepada temannya yang lain, pada saat itu juga suchi menangis terisak. Adikku merasa tidak enak dan langsung meminta maaf kepadanya. Tapi suchi masih saja menangis. Esoknya, adikku dating lebih pagi dari biasanya karena aka nada ulangan matematika pada jam pertama. Saat masuk kelas, dilihatnya suchi sedang duduk di bangkunya sambil membuka buku pelajaran matematika. Mereka langsung bertegur sapa dan kembali adikku meminta maaf kepada suchi atas kejadian yang dialaminya kemarin, dan suchi pun memaafkan dengan lapang dada. Bel pun berbunyi dan sang guru pun langsung memberika soal berikut lembar jawaban computer yang harus diisi dengan pensil 2B. saat adikku membuka tas dan mencari alat tulisnya, dia pun baru teringat akan alat tulisnya yang tertinggal diatas meja setelah belajar tadi malam. Dia pun mencari pinjaman ke beberapa teman disekitar tempat duduknya. Alhasil tak seorang teman pun ada yang memberinya pinjam pensil tersebut. Tinggal suchi yang belum dimintai tolong, dan akhirnya adikku pun meminta pinjam kepadanya. Kemudian suchi pun memberikan sebatang pensil yang sangat pendek , dan pensil itupun memakai penyangga berupa bambu agar terasa lebih enak di pakai. Setelah itu diapun memberikan penghapus kecil yang kemarin adikku potong –potong untuk menjahili temannya. Dari situ adikku sadar betapa baiknya suchi karena hanya dia satu-satunya yang memberinya pinjam saat dia membutuhkan. Dan mungkin, suchi menangis kemarin karena sifat hematnya dan adikku telah menyinggung perasaannya. Setelah kejadian itu, adikku lebih berhati-hati dalam bertindak.

September 16th, 2010